Asal Mula Uang Kertas di Bank
Written By Gpnkoe on
Senin, 21 November 2011 | 23:16
Jaman dahulu, pada saat emas dan perak menjadi alat
tukar-menukar barang dan alat pengukur nilai barang dan jasa, banyak orang
Yahudi yang menjadi penjual jasa penyimpanan emas yang lebih terkenal dengan
istilah goldsmith (gold adalah emas, dan smith adalah semit atau Yahudi).
Ini karena di sebagian besar Eropa orang-orang Yahudi dilarang
memiliki tanah yang membuat mereka tidak bisa menjadi petani dan menjadikan
profesi sebagai goldsmith sebagai alternatif pekerjaan yang prospektif.
Meski dipandang sebagai pekerjaan kurang terhormat, orang-orang
kaya yang memiliki banyak emas lebih menyukai menyimpan emasnya di goldsmith
karena jaminan keamanan yang diberikannya. Mereka hanya cukup memberi imbalan
sejumlah emas tertentu atas jasa penyimpanan yang diberikan goldsmith.
Untuk setiap emas yang disimpan, goldsmith mengeluarkan secarik
kertas (sertifikat) berisi keterangan tentang kepemilikan emas sejumlah
tertentu pada goldsmith. Setiap saat bila pemilik emas ingin mengambil
simpanannya, ia tinggal menunjukkan sertifikat tersebut.
Seiring berjalannya waktu, semakin tingginya tingkat kepercayaan
masyarakat pada goldsmith dan juga karena sifat sertifikat yang likuid (mudah
ditukarkan dengan emas kapan saja), masyarakat mulai menerima sertifikat
tersebut sebagai alat tukar-menukar barang dan jasa. Pada saat inilah
sertifikat tersebut menjadi uang kertas dan merupakan uang kertas pertama di
dunia.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak emas yang disimpan di
brankasnya, goldsmith melihat bahwa sebagian besar emas tersebut teronggok
begitu saja di brankas untuk jangka waktu yang lama, karena kebutuhan
likuiditas sudah terpenuhi dengan uang kertas. Ia mulai berfikir: bagaimana
kalau sebagian daripada emas itu dipinjamkan ke orang yang membutuhkan
(debitor) untuk dikembalikan setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan
bunga?
Kemudian goldsmith mulai menjadi rentenir dengan meminjamkan
sebagian emas milik nasabahnya kepada debitor yang membutuhkan. Setelah waktu
yang ditentukan emas yang dipinjam debitor dikembalikan dan goldsmith mendapat
keuntungan berupa bunga. Semakin sering dan semakin banyak goldsmith memberikan
pinjaman, semakin besar pula keuntungan yang didapatnya.
Selanjutnya goldsmith mendapatkan ide lain.
Mengapa harus memberikan pinjaman berupa emas? Bukankah uang
kertas yang dikeluarkannya telah diterima sebagai alat tukar-menukar dan jual
beli? Maka kemudian untuk setiap pinjaman yang ia berikan, ia hanya cukup
mengeluarkan uang kertas. Dan setelah jangka waktu tertentu, debitor
mengembalikan hutangnya berupa emas kepada goldsmith plus bunganya. Pada saat
ini goldsmith melihat keajaiban yang menjadi nyata. Hanya dengan selembar
kertas, ia mendapatkan sebongkah emas.
Saat itu sebenarnya goldsmith telah melakukan penipuan. Orang
menyangka emas yang dijaminkan benar-benar milik goldsmith sendiri, padahal
sebenarnya milik nasabah yang menitipkan emas. Selain penipuan ia juga
melakukan pemerasan dengan membebankan bunga atas pinjaman yang ia berikan.
(inilah cikal bakal prinsip perbankan)
Belajar dari kesuksesannya menipu nasabah (yang tidak mengetahui
jika emasnya yang dititipkan dijadikan jaminan kredit) dan debitor sekaligus,
kemudian goldsmith mendapatkan ide lagi. Bagaimana kalau dibuat beberapa lembar
uang kertas sekaligus untuk beberapa debitor?
Maka dibuatkan beberapa uang kertas sekaligus untuk beberapa
debitor. Dan setelah jangka waktu tertentu para debitor mengembalikan hutangnya
berupa emas plus bunga. Keajaiban itu semakin menakjubkan.
Dengan modal beberapa lembar kertas, ia mendapatkan sejumlah
besar emas. Maka ia pun mengeluarkan uang kertas sebanyak-banyaknya untuk
mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Keuntungannya ..… hanya dibatasi oleh kemampuan mencetak uang
kertas.
Tidak ada bisnis sepanjang sejarah umat manusia yang lebih
menguntungkan daripada bisnis yang dijalani goldsmith.
Seiring berjalannya waktu semakin banyaknya orang yang menjadi
debitor. Mereka rela antri duduk di bangku panjang untuk mendapatkan pinjaman
dari goldsmith. Bangku panjang (banque) tempat duduk para calon debitor itu
yang kemudian menjadi cikal bakal istilah BANK. Dalam waktu tidak terlalu lama,
para goldsmith menjadi orang-orang terkaya di dunia.
Para bangsawan dan para raja yang serakah membutuhkan dana untuk
membiaya tentara, dan belanja pegawainya. Mereka pun tidak bisa menghindar
untuk menjadi mangsa para goldsmith yang kemudian berganti istilah menjadi
banker (pemilik bangku). Sekali meminjam, nilainya jutaan kali pinjaman yang
diterima individu-individu, dan begitu juga keuntungan yang didapatkan banker.
Para banker itu senang denggan sifat serakah para raja dan
bangsawan yang suka berperang memperebutkan kekuasaan. Semakin serakah mereka,
semakin banyak perang yang dijalaninya dan itu berarti semakin banyak pinjaman
yang bisa diberikan para banker.
Dalam banyak kasus, ketika perdamaian terjadi, para banker
justru menjadi provokator politik untuk memicu peperangan.
- Mereka membiayai Oliver Cromwell untuk memberontak kepada Raja
Charles di Inggris.
- Mereka membiayai William Orange merebut tahta raja Inggris
dari Charles II.
- Mereka merekayasa Revolusi Perancis
- Membiayai petualangan Napoleon
- Memprovokasi kemudian membiayai pihak-pihak yang terlibat
dalam Perang Sipil Amerika, merancang Perang Krim, Perang Dunia I, Perang Dunia
II, Perang Dingin, Vietnam, Teluk, dan perang-perang yang lain.
Setelah perang, para pemimpin dan sekaligus juga rakyat
negara-negara yang terlibat perang menjadi sapi perahan para bankir atas hutang
yang mereka tanggung.
Selanjutnya, selain mendapatkan keuntungan materi yang tiada
tara, banker juga mendapatkan keuntungan politik yang besar. Mereka dapat
dengan mudah mengangkat seseorang menjadi penguasa semudah mereka
menjatuhkannya dari kekuasaan.
Dan semakin besar kekuasaan politik mereka, semakin besar pula
keuntungan ekonomi mereka. Politik dan uang, dua sisi mata uang yang sama,
semuanya telah dimiliki para banker.
Dasar Yahudi, ketika pada awal abad 20 ditemukan minyak bumi, para
banker itu melihat peluang bisnis besar lain. Jika manusia bisa dibuat
tergantung hidupnya pada minyak, maka keuntungan mereka akan semakin besar,
meski dibandingkan keuntungan yang diberikan oleh bisnis keuangan masih kalah
jauh.
Maka mereka membayar Henry Ford (seorang ahli mesin internal
combustion berbahan bakar minyak) untuk memproduksi mobil berbahan bakar minyak
secara massal sehingga production cost-nya lebih kecil dan bisa dijual dengan
harga relatif murah.
Di sisi lain mereka membujuk Thomas Alva Edison untuk
menghentikan ambisinya memproduksi mobil berenergi batere (karena akan
mengancam bisnis baru mereka) dengan tawaran menjadi bos perusahaan General
Electric. Sedangkan untuk urusan produksi minyaknya, mereka mempercayakan pada
Rockefeller.
Perusahaan-perusahaan transportasi massal dengan model
transportasi berenergi listrik seperti trem mereka beli untuk mereka gantikan
modelnya menjadi bus-bus berbahan bakar minyak. Bila ada perusahaan yang
melawan, mereka mengerahkan pasukan mafia, pengacara, atau aparat pemerintah
yang sudah disuap. Tidak lupa pembunuhan kharakter melalui media massa akan
dialami para penentang banker.
Ketika Stanley Meyer, seorang ilmuwan Amerika menemukan alat
pengubah air menjadi bahan bakar hidrogen yang murah dan portabel, ia
ditangkap, diadili dan terakhir dibunuh.
Sama dengan apa yang telah dilakukan terhadap Ezra Pound,
sastrawan besar penentang dominasi banker kapitalis internasional. Setelah
tidak memiliki alasan mengadili Ezra karena pemikirannya, Ezra dijebloskan ke
klinik perawatan penyakit jiwa (sastrawan besar yang beberapa muridnya meraih
Nobel Sastra dianggap gila?) hingga meninggal dalam tahanan.
Hal yang sama juga menimpa Joko, penemu blue energy dari
Indonesia. Dianggap membahayakan kepentingan para kapitalis penguasa bisnis
minyak, ia diculik, dibunuh kharakternya melalui media massa dan sekarang harus
menghadapi proses pengadilan.
Dan inilah sedikit gambaran keuntungan bisnis para bankir
kapitalis di bidang perminyakan. Saat ini konsumsi minyak dunia sekitar 100
juta barrel sehari. Biaya produksi minyak rata-rata katakan saja $20 per-barrel
meski sebenarnya lebih kecil. Jika harga minyak dunia, katakan $50 per-barrel,
maka produsen minyak mendapat keuntungan $30 per-barrel.
Berarti keuntungan produksi minyak global sehari adalah $30 x
100 juta = $3 miliar atau Rp30 triliun lebih dengan kurs dollar sekarang. Dalam
setahun keuntungannya adalah Rp30 triliun x 365 = Rp11.000 triliun. Katakan 50%
total keuntungan itu jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan minyak dunia milik
para banker, maka keuntungan para banker dari produksi minyak adalah Rp5.500
triliun setahun.
Diperlukan ribuan orang Syech Puji (kiai nyentrik yang suka
pamer kekayaan dan memperistri anak kecil) untuk menandingi keuntungan para
banker itu, dari bisnis minyak saja. Ingat dari bisnis minyak saja, belum
bisnis terkait seperti mobil, transportasi, apalagi bisnis pokok mereka.
Sistem perbankan yang berlaku saat ini adalah sistem yang sama
dengan sistem perbankan goldsmith, dengan kualitas dan kuantitas yang jauh
lebih besar. Contohnya bank kini bahkan tidak perlu lagi mengeluarkan uang
kertas atau sertifikat untuk memberikan pinjaman.
Cukup dengan sebuah entry di komputer alias dengan udara kosong
(abab istilah Jawanya) maka kredit sudah diberikan. Dan kemudian, para debitor
harus membayar dengan darah dan keringat atas abab yang diberikan banker. Jika
gagal membayar, harta bendanya disita oleh bankir sebagaimana dialami jutaan
debitor sub-prime mortgage di Amerika akhir-akhir ini.
Para bankir internasional saat ini adalah keturunan para
goldsmith jaman dahulu. Sebagian besar bank di dunia, termasuk Indonesia,
adalah milik para bankir internasional itu.
Pada suatu saat para banker itu bosan dengan tumpukan uang
kertas yang menumpuk di gudang mereka setelah sebelumnya persediaan emas dunia
kering tersedot ke brankas mereka kecuali sebagian kecil yang dipakai
masyarakat sebagai perhiasan.
Mereka ingin pembayaran riel: properti, tanah, emas, asset-asset
perusahaan dan sebagainya. Maka mereka menghentikan suplai uang kertas dan
menarik yang sudah beredar. Istilahnya kebijakan tight money. Dunia pun
mengalami krisis finansial yang merembet ke seluruh sektor ekonomi.
Perusahaan-perusahaan bangkrut, debitor-debitor tidak dapat membayar hutangnya,
saham perusahaan-perusahaan anjlok.
Saat inilah para bankir itu menjalankan rencananya: memborong
perusahaan-perusahaan yang bangkrut, saham-saham perusahaan yang anjlok, dan
menyita harta benda debitor yang gagal bayar. Maka dalam waktu singkat terjadi
pemindahan kekayaan besar-besaran dari masyarakat ke kas para banker. Dan dalam
situasi itu, mereka dengan bersembunyi di balik jubah IMF dan Bank Dunia,
datang menawarkan “bantuan” yang sebenarnya berupa kredit berbunga ganda yang
mencekik leher dan hanya membuat manusia semakin jatuh dalam cengkeraman
kekuasaan mereka.
Hal inilah yang terjadi pada fenomena Depresi Besar tahun
1930-an, Krisis Moneter tahun 1997 dan Krisis Finansial Global saat ini. Bahkan
saat ini AMERIKA pun tak luput dari tipu daya segelintir orang tersebut.
Amerika Serikat diambang resesi. Dengan utangnya yang mencapai $ 14,3 triliun
dollar atau setara dengan 100 persen dari PDB-nya. Persetujuan Kongres tentang
kenaikan utang, yang menyelamatkan Amerika Serikat dari gagal bayar (default),
tak mendapat sambutan positif di seluruh pasar bursa saham. Nilai perdagangan
di bursa saham, semuanya rontok, dan berimbas ke seluruh dunia.
Dunia
terbuai oleh ilusi yang ditebarkan para banker melalui artis-artis Hollywood
dan Bollywood, Madonna, David Beckham, Manchester United, Tom & Jerry,
Naruto, Indonesian Idol, dll. Bahkan anak-anak kecil pun sudah diajari orang
tuanya untuk terbuai ilusi Idola Cilik, hingga mengabaikan nasib jutaan rakyat
Palestina yang tengah kelaparan karena diblokade Israel atau ribuan rakyat
miskin tetangganya yang menderita gizi buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar